Seminar Nasional – Kebangkitan BUMN Sektor Infrastruktur

Bertempat di Financial Hall di Graha CIMB Sudirman, Jakarta,  pada Selasa, 19 Februari 2019, Pusat Studi BUMN (PSB) bersama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) (FEB UPDMB) mengadakan acara seminar nasional bertajuk “Kebangkitan BUMN Sektor Infrastruktur”.  

Acara ini dipadati dengan informasi aktual dan faktual mengenai pembahasan BUMN Sektor Infrastruktur dan didukung oleh sektor pembiayaan terutama perbankan. Kehadiran direksi – direksi dari berbagai perusahaan BUMN dan perbankan sebagai pembicara menambah kualitas acara ini.

Sebut saja Bapak Aloysius Kiik Ro dari Kementrian BUMN dan Bapak Syarif Burhanuddin dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia (PUPR RI), Bapak Bintang Perbowo dari PT Hutama Karya (Persero), Bapak Donny Arsal dari PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Bapak Dikdik Yustandi dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk , Bapak Sis Apik dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Bapak Jahja Setiaatmaja dari PT Bank Central Asia Tbk, Bapak Darwin Djajawinata dari PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), Bapak Didik Mardiyanto dari PT PP Infrastruktur, Bapak Bob Ananta dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Bapak Mahelan Prabantarikso dari PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, serta Prof. Dr. Wibowo, M.Phil, Dr. Ir. Tjipta Purwita, MBA, dan Dr. Cyrillus Harinowo yang mewakili FEB UPDMB dan PSB. Para pembicara yang sangat kompeten dan sesuai dengan tema seminar ini, memberikan informasi yang sangat komprehensif dan berbobot.

Tak lupa pula kehadiran Wakil Presiden RI ke 11, Bapak Boediono, yang meresmikan peluncuran buku “Kebangkitan BUMN Sektor Perhubungan” . Buku tersebut merupakan telaah BUMN Sektor Perhubungan yang dijadikan tema Seminar Nasional BUMN yang telah diselenggarakan FEB UPDMB dan PSB pada tahun sebelumnya. Ini adalah kali kedua.

Acara seminar dimulai dari pagi hari pukul 09.00 berakhir pada pukul 15.30. Para partisipan terlihat sangat puas dan menantikan kehadiran acara serupa di kesempatan yang lain. Dan memang diamini oleh panitia acara, acara yang terkait BUMN akan diselenggarakan lagi di tahun-tahun mendatang.

Foto Galeri Seminar Nasional Kebangkitan Sektor BUMN - PSB FEB UPDM (B)

Menjelang Seminar Nasional Kebangkitan BUMN dalam Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan – 19 Februari 2019

Media Gathering - Sharing Session

Pada hari Kamis kemarin, 7 Februari 2019 bertempat di Menara BCA Jl. M.H Thamrin Jakarta  diselenggarakan media gathering dan sharing session dengan para wartawan media nasional. Acara ini merupakan pengantar sebelum acara Seminar Nasional bertajuk Kebangkitan BUMN dalam Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan pada 19 Februari 2019 mendatang. Seminar ini diselenggarakan oleh Pusat Studi BUMN (PSB) – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) 

Media gathering dan sharing session tersebut dihadiri juga oleh Ketua Pembina PSB Cyrillus Harinowo (Dekan FEB UPDMB  Periode 1989 – 1991, Komisaris Independen BCA, Pengamat Ekonomi), Ketua PSB Tjipta Purwita, Corporate Finance Group Head Jasa Marga Eka Setya Adrianto, Senior Vice President Corporate Banking Bank Mandiri Yusak L.S. Silalahi. 

Sesi pertama, Ketua Pembina dan Ketua PSB melakukan paparan pembukaan dan latar belakang Seminar BUMN tersebut. Perwakilan PT Jasa Marga, Eka Adrianto, memperesentasikan company profile PT Jasa Marga, keberhasilan dan tantangan Perusahaan sebagai perwakilan dari BUMN sektor Infrastruktur sedangkan perwakilan dari Bank Mandiri, Yusak Silalahi, melakukan paparan mengenai peranan bank dalam mendukung pembiayaan BUMN sektor infrastruktur.

Sesi penutup dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan wartawan cetak dan media online nasional. 

 

Galeri Foto - Media Gathering dan Sharing Session

#seminarnasionalbumn#BUMN #PSB #FEBUPDMB #BUMNsektorinfrastruktur

Seminar Nasional : Kekuatan Perekonomian Indonesia di Tengah Turbulensi Ekonomi Global

Berawal dari kebijakan politik “kacamata kuda” Trump, dengan semboyan “America First” dalam mengobarkan perang dagang dengan Cina. Kejadiannya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif 10 persen untuk impor barang dari Cina senilai US$ 200 miliar. Pernyataan Trump pada 18 Juni 2018, ini meningkatkan ketegangan perang dagang berskala besar dengan Beijing. Trump mengatakan ini merupakan balasan atas keputusan Cina, yang mengenakan kenaikan tarif impor senilai US$ 50 miliar. Sebelumnya, pemerintah Cina mengatakan ikut menaikkan tarif impor barang dari Amerika sebagai balasan atas keputusan Trump menaikkan tarif impor dari Cina dengan nilai US$ 50 miliar. Perang dagang US – Cina, negara raksasa ekonomi dunia tersebut, memicu turbulensi ekonomi global.

Demikian penjelasan Ketua Wantimpres, Prof. Dr. Sri Adiningsih, M.Sc. mengawali ceramahnya berjudul “Kekuatan Perekonomian Indonesia di Tengah Turbulensi Ekonomi Global” dalam seminar nasional yang diselenggarakan Program Pascasarjana Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragama) (Sabtu, 20 Oktober 2018) di Kampus II Moestopo, Bintaro. Sri Adiningsih selanjutnya menjelaskan, bahwa ekonomi Indonesia harus memiliki ketangguhan untuk menghadapi turbulensi tersebut. Stabilitas dan fundamental ekonomi Indonesia harus terjaga dengan baik. Sampai saat ini Indonesia berhasil mengembangkan perekonomian sehingga pengangguran, kemiskinan, dan kesenjangan semakin berkurang.

Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) sejak 19Januari 2015 melanjutkan uraiannya. Indonesia memiliki Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yang bertugas menyelenggarakan pencegahan dan penanganan krisis sistem keuangan untuk melaksanakan kepentingan dan ketahanan negara di bidang ekonomi. KSSK bertugas mengkoordinasi pemantauan stabilitas keuangan, menangani krisis sitem keuangan, dan menangani permasalahan bank sistemik dalam kondisi stabilitas sistem keuangan normal maupun krisis. Anggota KSSK adalah Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan.

Usaha menstabilkan ekonomi dilakukan dari dalam dan luar negeri secara simultan. Dari dalam negeri dilakukan pembangunan infrastruktur yang berbasis memajukan perekonomian rakyat luas, kebutuhan sembako tercukupi, menekan inflasi, fiskal sehat, hutang luar negeri terjaga, dan hutang pemerintah prudent. Dari luar stabilitas ekonomi dilakukan melalui partnership antara lain dengan negara-negara Cina, Singapura, dan Jepang. Kontribusi keuangan Indonesia di Ching Mai Initiative Multilateralized (CMIM) sebesar 9104 Miliar USD. Kerjasama Bank Indonesia dan Otoritas Moneter Singapura dalam bentuk repo dan local currency swap senilai 10 Miliar USD. Kesepakatan Bank Indonesia dengan Bank Sentral Jepang dalam bentuk amandemen perjanjian kerjasama Bilateral Swap Agreement (BSA) dengan nilai fasilitas swap sebesar 22,76 Miliar USD.

Hasil usaha menstabilkan kondisi ekonomi dan sosial nasional antara lain, pertama, Pertumbuhan Produk Domestik Bruto pada posisi 5-10% di atas Turki, Thailand, Malaysia, Singapura, dan di bawah India, Vietnam, Cina, Filipina. Kedua, Produk Domestik Bruto per kapita Indonesia tumbuh dari 585 USD (1990) ke 3847 USD (2017) di atas Filipina. Ketiga, Gross Domestic Product per Capita on Purchasing Power Parity dari di atas 1 (1990) hingga mencapai 15000 (2018) di bawah Cina. Keempat, Pengangguran dari 11,24 Juta (2005) menurun hingga 5,13 Juta (Febuari 2018). Kelima, Kemiskinan dari 40 Juta (1970) menurun menjadi 9,82 Juta (Maret 2018). Sumber CEIC dan BPS 2018).

Prof. Sri Adiningsih menutup ceramahnya dengan penjelasan bahwa lebih penting dari pada keberhasilan menghadapi turbulensi ekonomi global, adalah menghentikan sumber turbulensi itu sendiri. Presiden RI Jokowi mengemukakan hal itu dalam Pertemuan Tahunan IMF-World Bank di Nusa Dua, Bali, Jumat, 12 Oktober 2018. Jokowi mengatakan hubungan antarnegara-negara ekonomi maju semakin lama semakin terlihat seperti “Game of Thrones”. Pidato tersebut dengan sangat keras menyindir negara-negara adikuasa tetapi disampaikan dengan gaya yang enak didengar.Disebutkan, dalam serial Game of Thrones, sejumlah Great Houses, Great Familiesbertarung hebat antara satu sama lain, untuk mengambil alih kendali ‘The Iron Throne’. Siapapun yang menang, perang adalah petaka yang selalu menimbulkan banyak korban, kesengsaraan, dan kesedihan. Mudah-mudahan pidato Presiden itu dapat menyentuh hati para pemimpin dunia.

Hadir dalam seminar beberapa pejabat structural Univ. Moestopo. Rektor, Prof. Dr. Rudy Harjanto, M.Sn., Pembina Yayasan, Prof. Dr. Thomas Suyatno, M.M., Staf Ahli Pembina Yayasan, Prof. Dr. Sunarto, M.Si., Prof. Dr. Paiman Raharjo, M.Si., Kepala Pusat Penjaminan Mutu, Prof. Dr. Himsar Silaban, M.M., Warek III, Dr. Bambang Winarso, M.Sc., Dekan FKG, Prof Dr. drg. Budiharto, SKM., Guru Besar Pascasarjana, Prof. Dr. Abdullah, M.M. Saat membuka seminar, Rektor Univ. Moestopo berharap agar mahasiswa menyimak ceramah dari sosok pejabat negara sekaligus guru besar perguruan tinggi terkemuka yang akan menyampaikan penjelasan mengenai kondisi ekonomi nasional dalam badai turbulensi global. Sehingga penjelasan itu dapat memberikan pencerahan sekaligus membawa manfaat ilmiah. (MB-ISY Humas)

Seminar Kewirausahaan

Untuk memperkenalkan acara Indonesia International Book Fair (IIBF) yang akan diadakan tanggal 12-16 September 2018 di Jakarta Convention Center, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) yang dalam hal ini diwakili oleh Yayasan Obor melakukan safari kebeberapa kampus untuk memperkenalkan dan mendorong mahasiswa untuk dapat hadir diacara tersebut.

Pada kesempatan ini Ibu Kartini Nurdin dari Yayasan Obor memberikan penjelasan tentang acara Book Fair ini, apa saja acara yang akan ada  seperti bedah buku, seminar dan workshop, Literasi, bertemu dengan penerbit dan pengarang buku, talkshow dan juga doorprize dan lain kegiatan yang menarik untuk dilihat dan didengar oleh kalangan mahasiswa dan sebagai moderator Bapak Hendi dari penyelenggaran IIBF.

Acara dipandu oleh Kepala Jurusan Akuntansi Hendi Prihanto, SE, M.Ak yang juga menjelaskan tentang tatacara menulis buku ditambah dengan sesi tanya jawab dan ditutup dengan pemberian buku kepada para mahasiswa yang bertanya, juga pemberian kenang-kenangan kepada pembicara Ibu Kartini Nurdin dan pihak FEB yang dalam hal ini diwakili oleh Hendi Prihanto, SE, M.Ak serta foto bersama seluruh peserta Seminar.